HUJJAH AMALIYAH
NAHDLIYAH
Dosen
Pengampu :
NUR ROHMAN, S.Pd., M.Si
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Hujjah atau Hujjat (bahasa
Arab: الحجة) adalah istilah
yang banyak digunakan di dalam Al-Qur'an dan literatur Islam yang bermakna
tanda, bukti, dalil, alasan atau argumentasi. Sehingga kata kerja
"berhujjah" diartikan sebagai "memberikan alasan-alasan".
Kadangkala kata hujjah disinonimkan dengan kata burhan[1], yaitu argumentasi yang valid, sehingga dihasilkan
kesimpulan yang dapat diyakini dan dipertanggungjawabkan akan kebenarannya.
Amaliyah Nahdliyah adalah amal
perbuatan lahir, baik yang berhubungan dengan Ibadah, Mu’amalah maupun Akhlaq;
yang biasa dilakukan oleh kaum Nahdliyyin, bisa jadi secara formal warga
Jam’iyyah Nahdlatul Ulama atau bukan.
Nahdlatul Ulama memperjuangkan
berlakunya Ajaran Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah, oleh karena itu menurut
NU, cara berfikir dan bentindak, cara bertheologi maupun beramal, yang benar
didasarkan pada Ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Menurut NU, Islam adalah
ahlussunnah wal jama’ah, maka kaum nahdliyyin tidak mendasarkan perbuatannya
kecuali pada ahlusunnah wal jama’ah.
Secara praktis, amaliyah ahlussunnah
wal jama’ah NU di dasarkan pada cara bertheologi menurut madzhab theologi
Al-Asy’ary dan Al-Maturidy, dalam bidang fiqh mengikuti salah satu madzhab
empat, yaitu : Hanafy, Maliky, Syafi;y dan Hambaly; serta mengamalkan tasawuf
sesuai dengan cara tasawuf Imam al-Junaid al-Baghdady dan Imam Al-Ghazaly.
1.2 Rumusan Masalah
Apa hujjah amaliyah nahdliyah tentang :
1. Tradisi
Yasinan
2. Tradisi
Maulid Nabi
3. Tradisi
Manaqiban dan Haul
4. Tradisi
Bulan Syura
5. Tradisi
Bulan Sya’ban, Ruwahan, dan Nyadran
6. Tradisi
Istighatsah dan Tawassul
7. Khasiyat
Ayat Al-Qur’an, Hizib, dan Do’a
8. Shalat
Sunnat Qabliyah Jum’at
9. Ziarah
Kubur
10. Tradisi
Bulan Shafar
1.3
Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan pembahasan yaitu ingin mengetahui lebih detil mengenail hujjah amaliyah
nahdliyah tentang :
1.
Tradisi Yasinan
2.
Tradisi Maulid Nabi
3.
Tradisi Manaqiban dan
Haul
4.
Tradisi Bulan Syura
5.
Tradisi Bulan Sya’ban,
Ruwahan, dan Nyadran
6.
Tradisi Istighatsah dan
Tawassul
7.
Khasiyat Ayat
Al-Qur’an, Hizib, dan Do’a
8.
Shalat Sunnat Qabliyah
Jum’at
9.
Ziarah Kubur
10.
Tradisi Bulan Shafar
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Tradisi
yasinan
Tradisi
yasinan adalah membaca surat yasin secara bersama-sama. Baik membacanya secara
sendiri-sendiri ditempat yang sama, atau membacanya dipimpin oleh seorang
pemandu. Biasanya tradisi yasinan dilakukan setiap malam jumat. Ada juga yang melakukn
setiap malam ahad, tergantung kesepakatan anggota kelompok yasinan
masing-masing.
Bacaan
yasin tersebut biasanya dihadiahkan kepada orang-orang yang sudah meninggal
dunia. Ada pula yang membacanya disamping orang yang menghadapi detik-detik
akhir dari kehidupannya di dunia. Dan adapula yang melakukannya dimakam para
ulama, orang tua atau kerabat.
Ada
banyak hadits shahih yang menerangkan keutamaan surat yasin, antara lain
hadist-hadist yang disebutkan oleh al-Imam Ibn Katsir, salah satu murid terbaik
Syaikh Ibn Taimiyah al-Harrani, dalam tafsirnya:
“Abu
Hurairah berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca surat yasin
pada malam harinya, maka ia diampuni pada pagi harinya,” Sanad hadist ini
jayyid (shahih). (HR. Al-Hafizh Abu Ya’la).
Demikian
hadist yang disebut oleh al-Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya. Setelah menyitir
hadist shahih tersebut, al-Hafizh Ibn Katsir kemudian berkata begini:
“Karena
ini sebagian ulama berkata, di antara khasiat surat yasin ini adalah, bahwa
apabila surat yasin dibaca ketika menghadapi persoalan yang sulit, maka Allah
akan memudahkannya. Membaca surat Yasin disamping orang yang akan meninggal
seakan-akan bertujuan turunnya rahmat dan berkah serta memudahkan keluarnya ruh
orang tersebut. Wallahu a’lam. Imam Ahmad bn Hanbal berkata, “Abu al-Mughirah
mengabarkan kepada kami, Shafwan mengabarkan kepada kami, ia (Shafwan) berkata,
“Para guru selalu berkata, “apabila surat Yasin dibaca disamping orang yang
meninggal, maka akan meringankan bebannya.” (Al-Hafizh
Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, juz 11, hal. 342-343).
Berkaitan
degan keutamaan surat Yasin ketika dibaca disamping makam kaum muslimin, Syaikh
Ibn Qayyim al-Jauziyah, murid terdekat Syaikh Ibn Taimiyah, juga berkata:
“Dari
al-Husain bin al-Haitsam berkata, “Aku mendengar Abu Bakar bin al-Athrusy
berkata, “Ada seorang laki-laki yang rutin mendatangi makam ibunya dan membaca
surat Yasin. Pada suatu hari ia membaca surat Yasin dimakam ibunya, kemudian
berkata, “Ya Allah, apabila Engkau berikan pahala bagi surat ini, maka
jadikanlah pahalanya bagi semua penghuni kuburan ini. “Pada hari Jumat
berikutnya, seorang wanita datang dan berkata pada laki-laki itu, “kamu fulan
bin fulanah?” Ia menjawab, “Ya.” Wanita itu berkata, “aku punya anak perempuan
yang telah meninggal. Lalu aku bermimpi melihatnya duduk-duduk di pinggir
makamnya. Aku bertanya “kamu kok bisa duduk-duduk disini?” Putriku menjawab,
“Sesungguhnya fulan bin fulanah datang ke makam ibnya. Ia membaca surat Yasin
dan pahalanya dihadiahkan kepada semua penghuni makan ini. Kami dapat bagian
rahmatnya. Atau kami diampuni dan semacamnya.” (Ibn
Qayyim al-Jauziyyah, al-Ruh, hal 18)
2.2
Tradisi
Maulid Nabi
Setiap bulan rabiul awal tiba, mayoritas
kaum muslimin di berbagai belahan dunia mengadakan upacara perayaan maulid Nabi
SAW. Dalam acara tersebut biasanya dibacakan sirah dan biografi kehidupan Nabi SAW, mulai kelahiran hingga
wafatnya. Tidak jarang acara maulid diadakan dengan mendatangkan pembicara dari
luar. Setelah acara maulid dilakukan dengan penuh khidmat, maka dilanjutkan
dengan suguhan makanan yang dihidangkan kepada para peserta. Tradisi maulid ini
sangat baik untuk dilestarikan, karena dapat menjadi sarana dakwah dalam
menyampaikan sirah dan biografi Nabi
SAW kepada umatnya. Pengetahuan sirah dan biografi Nabi SAW, akan menambah
cinta kepada Nabi SAW serta memperkuat keimanan kita kepada Nabi SAW. Syaikh
Ibn Taimiyah al-Harrani menanggapi tradisi maulid ini dengan sangat positif.
Dalam hal ini beliau berkata dalam kitabnya, Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqi:
“Jadi, mengagungkan
Maulid dan menjadikannya sebagai tradisi tidak jarang dilakukan oleh sebagian
orang, dan ia memperoleh pahala yang sangat besar karna tujuannya yang baik
serta sikapnya yang mengagungkan Rasulullah SAW sebagaiman telah aku jelaskan
sebelumnya.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Iqtidha’
al_shirath al-Mustaqim, hal 297).
Dewasa ini, dalam rangka memantapkan
keyakinan kaum wahabi terhadap kebenaran dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
al-Najdi, pendiri aliran wahabi, kaum Wahabi di Saudi Arabia mengadakan acara
semacam maulid atau manaqiban, yang
mereka sebut dengan Usbu’ al-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab (Pekan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab). Selama
satu pekan, para ulama wahabi bergantian menguraikan keutamaan dan biofgrafi
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam bentuk makalah. Kemudian makalah
tersebut mereka himpun dan mereka terbitkan. Hal tersebut persis dengan tradisi
maulid, haul manaqiban dikalangan
kaum Sunni.
2.3
Tradisi
Manqiban dan Haul
Manaqiban
dan haul adalah upacara pembaca biografi dan keutamaan para wali Allah SWT yang
menjadi panutan umat. Dalam acara terserbut juga delingi dengan pembacaan
al-Fatihah, ayat ayat al-Qur’an dan aneka dzikir lainnya, lalu pahalanya
dihadiahkan kepada wali yang bersangkutan. Di sebagian daerah dipulau jawa
banyak yang mengadakan manaqiban Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, pendiri tereqat
Qadiriyah, di daerah Kalimantan Selatan, banyak pula yang merayakan manqib
Syaikh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Madani al-Syafi’i, pendiri tereqat
al-Sammaniyah. Tradisi manaqiban ini sangat baik untuk dilakukan, agar kita
dapat menghayati dan meneladani perjalanan kehidupan mereka yang sangat
produktif dalam beribadah, berdakwah dan berbakti kepada agama.
Disisi
lain, para ulama’ juga menjelaskan, bahwa dalam mengenang orang-orang salih,
dapat menurunkan rahmat Allah swt. Dalam konteks tersebut al-iman al-mujtahid
sufyan bin uyainah, salah seorang ulama salaf dan guru al-imam ahmad bin
hanbal, berkata;
“muhammad
bin hasan berkata,” aku mendengar sufyan bin uyainah berkata, “ketika
orang-orang salih dikenang, maka rahmat Allah akan turun” (Al-Imam al-Hafizh
Abu Nu’aim, Hilyah al-Auliya’, juz 7 hal 285).
Bahkan
ketika tegas lagi, syaikh bin taimiyah mengakui bahwa tradidu kaum beriman,
pasti merasa senang dan nyaman apabila mengenang dan menyebut para nabi dan
orang-orang salih. Dalam konteks ini syaikh ibn taimiyah berkata dalam
khitbahnya, al shafadiyah, sebagai berikut:
“kesempurnaan diri tidak akan tercapai tanpa pengetahuan, kemampuan dan
kemauan yang sumbernya adalah cinta. Ketika seseorang merasa nikmat dengan
pengetahuan, maka sudah barang tentu disana ada rasa cinta terhadap apa yang
dinikmatinya. Adakalanya apa yang ia ketahui, ia cinta, serta merasa nikmat
dengan mengetahui dan menyebutnya. Sebagaimana orang-orang yang beriman merasa
nikmat dengan ma’rifat kepada Allah dan berdzikir kepada-Nya. Bahkan
orang-orang yang beriman merasa nikmat dengan mennyebut (mengenang) para nabi
dan orang-orang salih. Oleh karena itu ada pameo, “ketika orang-orang salih
dikenang, maka rahmat Allah akan turun”, dengan bangkitnya jiwa dan hati
seseorang untuk mencintai kebaikan dan merasa senang dan nyaman melakukannya.”
(syaikh ibn taimiyah,kitab al-shafadiyah, juz 2, hal 269).
2.4
Tradisi
Bulan Syuro
Pada
sepuluh hari pertama bulan muharram, kaum muslimin di berbagai belahan dunia
banyak menunaikan ibadah puasa sunat. Terutama tanggal 9 dan 10. Di tanah air,
sebagian besar kaum muslimin mengadakan aneka ragam tradisi berkaitan dengan
hari Asyura’ (tanggal 10 bulan muharram) atau yang dikenal dengan nama bulan
syuro (bulan sorah). Al-imam hafizh
ibn al-jauzi al-hanbali menjelaskan 15 macam kebaikan yang dianjurkan dilakukan
pada hari asyura.
1)
Bersedekah kepada fakir
miskin
2)
Mengusap kepala anak
yatim
3)
Memberi buka orangyang
berpuasa
4)
Menyiramkan air
5)
Mengunjungi saudara
seagama
6)
Mandi
7)
Menjenguk orang sakit
8)
Memuliakan dan berbakti
kepada kedua orang tua
9)
Menahan amarah dan
emosi
10) Memaafkan
orang yang melakukan aniyaya pada bulan asyura
11) Memperbanyak
ibadah shalat, do’a, istigfar.
12) Memperbanyak
dzikir kepada Allah
13) Menyingkirkan
apa sja yang mengganggu orang dijalan
14) Berjabatan
tangan dengan orang yang dijumpainya dimana saja
15) Memperbanyak
membaca surah al-ikhlas sampai seribu kali
Demikian
15 anjuran pda bulan asyura yang disebutkan oleh al-imam al-hafizh ibn al-jauzi
al-hambali dalam kitabnya, al-majalis
hal 73-74. Dalam rangka menerapkan anjuran para ulama tentamg hari asyura, umat
islam Nusantara merayakan upacara asyura dengan tradisi membuat bubur syurp (tajin sorah) yang disuguhkan kepada
keluarga dan tetangga. Berkaitan dengan tradisi membuat makanan bubur syuro
pada hari asyuro ini, ada dalam hadits shahih yang mendasarinya.
“Abu
sa’id al-khudri berkata, “Rosulullah saw bersabda “barang siapa yang menjadikan
kaya keluarganya (dalam hal belanja dan makanan) pada hari asyura, maka Allah
akan menjadikan kaya selama satu tahun tersebut.” Hadits shahih. (HR.
Al-thabarani dan al-baihaqi).
Berkaitan
dengan hadits tersebut, al-imam al-hafizh ahmad al-ghumari menulis kitab khusus
tentang keshahihannya berjudul, hidayah al-shaghra bi tashhih hadits
al-tausi’ah ah ‘ala al-iyal yaumab ‘asyura’. Bahkan al-imam al-hafiz ibn rajab
al-hanbali, mrid syaikh ibn qayyim al-jauziyah , berkata dalam kitabnya lathaif
al-ma’arif sebagai berikut: “Ibn Manshur berkata, “Aku berkata kepada
Imam Ahmad, “Apakah Anda mendengar hadist, “Barangsiapa yang menjadikan kaya
keluarganya pada hari asyura, maka Allah akan menjadikannya kaya selama
setahun?” Ahmad menjawab, “Ya, Hadist tersebut diriwayatkan oleh Sufyan bin
Uyainahdari Ja’far al-Ahmar, dari Ibrahim bin Muhammad, dari al-Muntasyir –
orang terbaik pada masanya-, bahwa ia menerima hadist, “barangsiapa yang
menjadikan kaya keluargannya pada hari Asyura, maka Allah akan menjadikannya
kaya selama satu tahun penuh.” Sufyan bin Uyainah berkata, “ Aku telah
melakukannya sejak 50 atau 60 tahun, dan selalu terbukti baik.” (al-Hafizh
Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif, hal. 137-138).
2.5
Tradisi
Bulan Sya’ban, Ruwahan dan Nyadran
Bulan Sya’ban adalah bulan istimewa.
Pada bulan Sya’ban semua amal manusia dilaporkan kepada Allah SWT. Nabi SAW
sendiri memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban, melebihi puasa beliau pada
bulan-bulan yang lain. Berkaitan dengan keutamaan bulan Sya’ban ini, al-Imam
Ibn Rajab al-Hanbali, murid terkemuka Syaikh Ibn Qayyim al-Jauziyah, berkata
dalam kitab Latahif al-Ma’arif sebagai
berikut:
“Al-Imam Ahmad dan
al-Nasa’i meriwayatkan dari hadist Usamah bin Zaid, yang berkata: “Rasulullah
SAW terkadang berpuasa selama beberapa hari berturut-turut sehingga kami
berkata, beliau tidak sarapan pagi. Beliau juga sarapan pagi selama beberapa
hari sehingga hampir saja beliau tidak berpuasa kecuali dua hari dari Jum’at,
apabila dua hari itu menjadi bagian dari puasanya. Kalau tidak, beliau berpuasa
pada dua hari itu. Nabi SAW tidak berpuasa pada bulam-bulan yang ada seperti
puasa beliau pada bulan Sya’ban. Akau berkata kepada Nabi SAW, “Wahai
Rasulullah SAW, aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan sebelumnya
seperti puasa Anda pada bulan Sya’ban?” Nabi SAW menjawab , “Bulan Sya’ban itu,
Bulan yang dilupakan manusia antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan Sya’ban
itu, bulan dimana amal manusia diangkat kepada Allah SWT Tuhan semesta alam.
Aku ingin, amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa,” (Al-Hafizh
Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif, hal. 236).
Dalam menghadapi bulan
istimewa, dimana amal manusia dilaporkan kepada Allah SWT, umat Islam ditanah
air melakukan tradisi ruwahan (memperbanyak
sedekah), sehingga bulan ini disebut dengan bulan ruwah (Bulan Rabble). Para ulama juga menganjurkan agar kita memperbanyak
sedekah pada momen-momen yang dianggap penting yang sedang dihadapi. Dalam hal
ini al-Imam al-Hafizh al-Nawawi berkata:
“Para ulama kami
berkata, “Disunahkan memperbanyak sedekah ketika menghadapi urusan-urusan yang
penting.” (al-Imam al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh
al-Muhadzdzab, juz 6, hal. 233).
Bahkan, berkaitan
dengan anjuran peningkatan amal kebaikan pada bulan Sya’ban, al-Imam al-Hafizh
Ibn Rajab al-Hanbali berkata:
“Oleh karna Sya’ban itu
merupakan pengantar lagi bulan Ramadhan, maka pada bulan Sya’ban di anjurkan
hal-hal yang dianjurkan pada bulan ramadhan seperti berpuasa dan membaca
al-Qur’an, sebagai persiapan menghadapi Ramadhan dan jiwa menjadi terlatih
untuk taat kepada Allah. Kami telah meriwayatkan dengat sanad yang lemah dari
Anas, yang berkata, “Ketika blan Sya’ban tiba, kaum Muslimin biasanya menekuni
Mushhaf dengan membaca al-Qur’an. Mereka juga mengeluarkan zakat harta benda
mereka agar membantu orang yang lemah dan miskin dalam menjalani puasa
Ramadhan.” (Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif
al-Ma’arif, hal. 258)
Pada bulan Sya’ban, dikalangan
masyarakat kita ada pula tradisi ziarah kubur, yang sebagian daerah dikenal
dengan tradisi nyadran. Rasulullah
SAW juga berziarah ke makam para sahabat di Baqi’ pada malam Nifsu Sya’ban.
Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, murid terbaik Syaikh Ibn Qayyim al-Jauhiyah,
berkata dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, berikut
ini:
“Mengenai keutamaan
malam nifsu Sya’ban, ada sejumlah hadist-hadist lain yang diperselisihkan oleh
para ulama. Mayoritas ulama menilainya dha’if. Sebagian hadist-hadist iti
dishahihkan oleh Ibn Hibban dan diriwayatkan dalam Shahih-nya. Hadist terbaik
diantara hadist-hadist tersebut adalah, hadist ‘Aisyah yang berkata, “Aku
kehilangan Nabi SAW lalu aku keluar mencarinya, ternyata beliau ada dimakam
Baqi’, sedang mengangkat kepalanya ke langit. Beliau berkata, “Apakah kamu
khawatir Allah dan Rasul-Nya berbuat sewenang-wenang kepadamu?” Aku menjawab,
“Wahai Rasulullah, aku mengira englau mendatangi sebagai istri-istrimu.” Lalu
Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT turun pada malam nifsu Sya’ban ke
langit dunia, lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya melebihi bulu-bulu
kambing suku Kalb.” Hadist ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, al-Tarmidzi dan
Ibn Majah.” (Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif
al-Ma’arif, hal. 261).
Tradisi lain juga berlangsung di
tengah-tengah masyarakat pada malam nifsu Sya’ban adalah shalat sunnat secara
berjamaah dan dilanjutkan dengan doa bersama. Tradisi ini berkembang sejak
generasi salaf, kalangan tabi’in. Dalam hal ini, al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali
berkata:
“Al-Syafi’i ra berkata,
“Kami mendapat informasi bahwa doa dikabulkan pada lima malam, yaitu malam
jum’at, malam hari raya, malam 1 rajab dan malam nifsu Sya’ban.” Al-Syafi’i
berkata, “Aku menganjurkan semua yang diceritakan pada kelima malam ini.”
Sementara tidak ditemukan pertanyaan dari Imam Ahmad mengenai malam nifsu Sya’ban.
Tetapi kesunatan ibadah(shalat dan semacamnya) pada malam itu dapat di
analogikan terhadap dua riwayat dari Imam Ahmad mengenai ibadah pada malam hari
raya. Dalam satu riwayat, Ahmad tidak menganjurkan ibadah (shalat) berjamaah
pada malam hari rayakarena tidak pernah dikutip oleh Nabi SAW dan para
sahabat.dalam riwayat lain, Ahmad menganjurkan shalat sunnat berjamaah pada
malam hari raya karena Abdurrahman bin Yazid bi al-Aswad – Ulama generasi
tabi’in telah melakukannya. Demikian pula, shalat sunnat berjamaah pada malam
nishfsu Sya’ban, tidak ada riwayat dari Nabi SAW dan para sahabat. Tetapi ada
riwayat dari sekelompok Tabi’in dari tokoh-tokoh fuqaha penduduk Syam yang
melakukan shalat sunnat secara berjamaah.” (Ibn
Rajab, Lathaif al-Ma’arif, hal. 264).
2.6 Istighatsah
Dan Tawassul
Istighatsah
dan tawassul memiliki arti yang sama. Yaitu, memohon
datangnya manfaat atau terhindarnya bahaya kepada Allah SWT, dengan menyebut
nama seorang nabi atau wali karena memuliakan (ikram) terhadap keduanya.
Al-Syaikh Jamil Afandi Shidqi
al-Zahawi menjelaskan bahwa yang dimaksud Istighatsah
dan tawassul dengan para nabi dan
orang-orang yang saleh ialah menjadikan mereka sebagai sebab dan perantara
dalam memohon kepada Allah SWT untuk mencapai tujuan. Pada hakikatnya Allah SWT
adalah pelaku sebenarnya (yang mengabulkan do’a ).
Ada
banyak dalil yang menjelaskan keutamaan tawassul. Diantaranya adalah firman
Allah SWT :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah SWT Dan carilah sebuah perantara untuk sampai kepada Allah SWT
Berjanjilah kamu dijalan-Nya mudah-mudahan kamu meendapat keuntungan”. (
QS. Al-Ma’idah:35 ).
Dalam
ayat yang lain, Allah SWT berfirman:
“Jika mereka berbuat aniaya pada dirinya
(berbuat dosa), lalu mereka dating kepadamu (hai Muhammad) dan memiinta ampunan
kepada Allah SWT kemudian Rasul memohonkan ampunan untuk mereka, tentulah Allah
SWT yang Maha Menerima taubat dan Yang Maha Penyayang akan menerima taubat mereka.” (QS. Al-Nisa’: 64).
Sahabat Umar ketika melakukan shalat
istiqa’ juga melakukan tawassul.
“Dari Anas bin Malik beliau berkata, “Apabila
terjadi kemarau sahabat Ummar bin al-Khaththab bertawassul dengan Abbas bin
Abdul Muththalib, kemudian berdo’a “ Ya Allah, kami pernah berdo’a dan
bertawassul kepada-Mu dengan nabi SAW maka engkau turunkan hujan. Dan sekarang
kami bertawassul dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan”. Anas berkata,
“ Maka turunlah hujan kepada kami.”
(HR. al-Bukhari [954]).
Menikapi
tawassul Sayyidina Umar tersebut, Sayyidina Abbas kemudian berdo’a:
“Ya Allah, sesungguhnya malapetaka itu tidak
akan turun kecuali karena dosa tidak akan sirna melainkan dengan taubat. Kini
kaum muslimin bertawassul kepadaku untuk memohon kepada-Mu karena kedudukanku
di sisi Nabi-Mu. …..diriwayatkn oleh al-Zubair bin Bakkar. “ (al-Tahdzir
minal-Ightirar, hal. 125). Pada hakekatnya
tawassul yang dilakukan sayyidina Umar dengan Sayyidina Abbas merupakan
tawassul dengan Nabi SAW (yang pada waktu itu telah wafat), disebabkan posisi
abbas sebagai paman Nabi SAW dan karena kedududkannya di sisi Nabi SAW. (Al-tahdzir min al-Ightirar, hal. 125).
Memang dihadapan Allah SWT , semua
manusia mempunyai kedudukan yang sama, semasa hidup atau stelah meninggal
dunia. Al-Qur’an menegskan bahwa orang yanag saleh atau para syuhada itu tetap
hidup di sisis Tuhan walaupun jasad mereka telah terkubur di dalama tanah.
Sebagaiman firman Allah SWT:
“Dan janganlah kamu menyangka orang-orang
yang gugur di jalan Allah SWT itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya
dengan mendapat rizki. “ (QS. Ali Imran:169).
Dalam
ayat lain, Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap
orang-orang yang gugur di jalanAllah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu
tidak menyadarinya, “ (QS. Al-Baqarah: 154).
Syaikh Yusuf bin isma’il al-Nabhani
menyatakan “Dalam hal beratawassul itu,
tidak ada perbedaan antara tawassul kepada Nabi Muhammad SAW atau para nabi yang lainnya, juga kepada para
wali Allah serta orang-orang saleh. Dan
tidak ada perbedaan pula antara bertawassul kepda orang yang hidup ataupunorang
yang telah meninggal dunia. Sebab pada hakekatnya mereka tidk dapat mewujudkan
serta tidak dapat memmberi pengaruh apapun. Mereka di harapkan barokahnya
karena mereka adalah para kekasih Allah SWT yan menciptakan dan yang mewujudkan
(Apa yang diminta orang yang bertawassul) hanyalah Allah SWT semata.
Menurut hemat kami orang-orang yang
memperbolehkan tawassul kepada orang mati tersebut, sebenarnya telah terjebkak pada kesyirikan , sebab
mereka meyakini bahwa orang yang hidup dapat memberikan sesuatu (pengaruh)
kepada seseorang, dan orang yang mati
tidak dapat memberikan manfaat apapun. Jadi pada hakekatnya mereka adaah
orang-orng yang meyakini bahwa ada mahluk selain Allah SWT yang dapat memberi
pengaruh dan mewujudkan sesuatu. Maka bagaiman mungkin mereka mengklaim dirinya
ebagai orang-orng yang menjaga tauhid (akidah), dan menuduh kelompok lain
berbuat kesyirikan?
Memang
kalau direnungkan dengan seksam, manusi itu hanya berusaha, yang menentukan
segalanya adalah Allah SWT. Dalam seehari-hari kita sering mendengar kata-kata
bertobatlah agar sembuh, berolaragalah agar sehat, belajarlah agar pandai.
Namun pada hakekatnya yang menyembuhkan, yang meyehatkan , yang menjadikan
pandai, hanyalah Allah SWT semata.
Maka
begitu pula dalam hal tawasul ini. Pada hakekatnya bertawassul itu menjadikan
sesuatu sebagai perantara agar doa yang dipanjatkan dapat segera diterima.
Orang yang bertawassul tidak bermaksud untuk memohon atau menyembah kepada
orang atau suatu benda. Karena itu mereka bukanlah termasuk orang yang mendapat
peringatan Allah SWT dalam al-Qur’an:
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama
yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain
Allah (berkata): “kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka
mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. “ (QS. Al-Zumar:
23).
Setelah
memperhatikan ayat tersebut dengan cermat, Syaikh Abdul Hayyi al-Amrawi dan Syaikh Abdul Karim Murad
menyatakan “ Perkataan para penyembah berhala “Kami menyembah mereka
(berhala-berhala itu) supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan
seedekat-dekatnya. Ayat ini menegaskan bahwa mereka menyembah berhala untuk
tujuan tersebut. Sedangkan orang yang bertawassul dengan orang alim atau para rasul
itu tidak menyembah mereka.
Maka jelas bedanya antara orang yang
menyembah berhala yang memang benar-benar
menyembah berhala, yakni dalam ungkapan mereka. Sementara orang yang
bertawassul hanya meminta dan menyembah Allah SWT semata. Tidak terbesit di
dalam hatinya seujung rambutpun keyakinan adaya kekuatan dan kekuasaan lain di
luar kekuatan dan kekuasaan Allah SWT.
Selain itu, untuk makin memantapkan
keyakinan, perlu memaparkan di sini pendapat kelompok yang sering membid’ahkan amaliah tawassul dan
istighatsah. Dalam hal ini, Syaikh Ibn Taimiyah al Hararani (wahabi), berkata
dalam al-Kalim al-Thayyib:
“Bab tentang kaki terkena mati rasa. Dari
al-Haitsam bin Hanasyy, berkata, “Kami bersama Ibn Umar. Tiba-tiba kaki beliau
terkena mati rasa, maka salah seorang yang hadir mengatakan kepada beliau:
“Sebutkan orang yang palin engkau cintai!” Lalu Ibn Umar berkata: “Ya Muhammad .” Maka seketika itu kaki beliau
sembuh.” (Ibn Timiyah, al-Kalim al-Thayyib, hal.173).
Syaikh Ibn Taimiyah juga mennganggap
tawassul dan istighatsah
dengan orang saleh yang sudah wafat bukan sebagai kemungkaran dan
kesalahan, apalagi sebagai kesyirikan.
2.7 Khasiat
Ayat Al-Qur’an, HizibdanDo’a
Mengamalkando’a-do’a,
hizibdanmemakaiazimatpadadasarnyatidaklepasdariikhtiarseoranghamba, yqangdilakukandalambentukdo’akepada
Allah SWT melaluiamalanitu.Jadisebenarnya,
membacahizibdanmemakaiazimattidaklebihsebagaisalahsatubentukdo’akepada Allah
SWT.Dan Allah SWT sangatmenganjurkanseoranghambauntukberdo’akepada-Nya. Allah
SWT berfirman:
“Berdo’alahkamu,
niscayaakuakanmengabulkannyauntukmu.” (QS. Al-Mu’min:60)
Ada
beberapadalildarihadistNabi SAW yang menjelaskankebolehanini. Di
antaranyaadalah:
“Dari Awf bin
Malik al-Asyja’I, iameriwayatkanbahwakepada zaman jahiliyah,
kitaselalumembuatruqyah (sepertiazimatdansemacamnya). Lalu kami
bertanyakepadaRasulullah SAW bagaimanapendapatEngkau (yaRasul)
tentanghalitu.Rasulmenjawab,
“Cobatunjukkanruqyahmuitukepadaku.Membuatruqyahtidakapa-apaselamadidalamnyatidakterkandungkesyirikan.”(HR.Muslim
[4079]).
“Dari Abdullah
bin Amr, bahwaRasulullah SAW pernahbersabda,
“Apabilasalahsatudiantarakamubanguntidur, makabacalah (bacaan yang artinya)
“Akuberlindungdengankalimat-kalimat Allah SWT yang
sempurnadarikemurkaandansiksaannya, dariperbuatanjelek yang dilakukanhambanya,
darigodaansetansertadaikedatangannyapadaku”.
Makasetanitutidakakandapatmembahayakan orang tersebut. Abdullah Bin Umar
mengajarkanbacaantersebutkepadaanak-anaknya yang bhalig.Sedangkan yang
belumbhalig, iamenulisnyapadasecarikkertas, kemudiandigantungkandilehernya.”
(Al-Kalim Al-Thayyib, hal.33).
Mengenaikhasiatayat-ayat
Al-Qur’an danhizib yang disusunoleh para wali Allah SWT, Syaikh Ibn Qayyim
al-Jauziyahberkata:
“Dan
telahdiyakinibahwasebagianperkataanmanusiamemilikisekianbanyakkhasiatdananekakemanfaatan
yang dapatdibuktikan.Apalagiayat-ayat Al-Qur’an selakufirman Allah,
Tuhansemestaalam, yang keutamaannyaatassemuaperkataansamadengankeutamaan Allah
atassemuamakhluk-Nya. Tentusajaayat-ayat Al-Qur’an
dapatberfungsisebagaipenyembah yang sempurna, pelindung yang
bermanfaatdarisegalamarabahaya, cahaya yang memberihidayahdanrahmat yang
merata. Dan seandainya Al-Qur’an ituditurunkankepadagunung,
tentuiaakanpecahkarenakeagungannya. Allah telahbefirman: “Dan kami turunkandari
Al-Qur’an suatu yang menjadipenawardanrahmatbagi orang-orang yang beiman.”
(QS.Al-Isra’:82). Kata-kata “dari Al-Qur’an”,
dalamayatiniuntukmenjelaskanjenis, bukanbermakanasebagianmenurutpendapat yang
paling benar.”(Syaikh Ibn Qayyim al-Jauziyah, Zad al-Ma’ad fi HadyKhair
al-‘Ibad, juz 4, hal.177).
2.8 ShalatSunnatQabliyahJum’at
SebelumkhutbahdikumandangkanolehkhatibdalamitualshalatJum’at,
kaummusliminditanah air
biasanyamelakukanshalatsunnatqabliyahJum’at.Sebagianbesarmasyarakatmelakukannyaduaraka’at.Tetapibanyak
pula yang melakukannya 4 raka’atseperti di daerah Kalimantan Selatan.Hal
tersebutdilakukansesuaidenganpendapat yang ditegaskanoleh al-Imam
al-Nawawidalamkitabal-Majmu’ Syarh
al-Muhadzdzab.
BerkaitandenganshalatqabliyahJum’atini,
Syaikh Muhammad bin Ali al-Syaukani, ulamaSyaikhZaidiyah yang
menjadirujukanutamakaumWahabi di tanah air sejak zaman dulu,
telahmembeberkandalil-dalilnyadalamkitabNail
al-Authar, berikutini:
“Bab
shalatsunnatsebelumJum’atselama imam
belumkeluar.Habisnyawaktushalatsunnatadalahdengankeluarnya imam, kecualishalattahiyatal-masjid.
Dari Nubaisyah al-Hudzalir.a, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“ApabilaseorangmuslimmandipadahariJum’at, laluberangkatke masjid
tanpamenggangguataumenyakiti orang lain. Apabilaiamendapati imam telahkeluar,
makaiashalatsunnatsesuai yang telahditetapkan. Apabila imam telahkeluar, makaia
duduk mendengarkankhutbahnyasampai imam menyelesaikanjum’atdankhutbhahnya.
Makaapabilasemuadosa orang tersebuttidakdiampunipadaJum’atitu,
makaJum’atnyamenjadipenebusdosanyasampaiJum’atbeikutnya.”(HR.Ahmad).
“Dari Abdullah
bin Mughaffalr.a, dariNabi Muhammad SAW bersabda: “Antara adzandan iqamat
pastiadashalatsunnat,(3 kali), bagi orang yang hendakmelakukannya.”
(HR.al-Bukhari dan Muslim).
“Dari Abdullah
bin al-Zubairr.aberkata, Rasulullah SAW bersabda: “Setiapadashalatfardhu,
makasebelumnyaadashalatsunnatduaraka’at.” (HR. Ibn HibbandalamShahih-nya,
al-Daraquthnidan al-Thabarani).
“Dari
Ibn Umar r.abahwaiamelakukanshalatsebelumJum’at lam
sekalidanmelakukanshalatsesudahnyaduaraka’at. IamengabrkanbahwaRasulullah SAW melakukannya.”Hadistshahih.(HR. Abu Dawud).
2.9
Ziarah
Kubur
Apabila kita berkunjung ke makam para
wali, misalnya Wali songo, kita temukan kaum muslimin berbondong-bondong dating
melakukan wisata religi dengan tujuan mencari berkah. Di samping makam para
kekasih allah itu, kita saksikan kaum muslimin membaca al-Qur’an, tahlilan dan
aneka dzikir lainnya dengan khusyu’ dan penuh khidmat. Kemudian diiringi dengan
tawassul dan tabarruk, dengan harapan semua hajat mereka di kabulkan oleh allah
swt.
Ziarah makam para wali merupakan tradisi
kaum muslimin sejak generasi salaf yang shalih. Al-Imam al-Hafizh Ibn Hibban,
pengarang kitab shahih Ibn Hibban, menulis dalam al-Tsiqat yang artinya:
“Ali bin Musa al-Ridha meninggal di Thus oleh
racun yang diminumkan oleh khalifah al-Makmun. Makamnya sangat populer, selalu
diziarahi orang, terletak di Sanabadz, di luar Nuqan, di sebelah makam
al-Rasyid. Aku berulang kali ziarah kesana. Setiap aku mengalami kesulitan,
selama tinggal di Thus, lalu aku berziarah ke makam Ali bin Musa al-Ridha, dan
aku berdo’a kepada allah agar menghilangkan kesulitan itu dariku, aku pasti
dikabulkan. Hal itu berulang kali aku lakukan, dan selalu terbukti.”
(Al-Imam al-Hafizh al-Hujjah Ibn Hibban al-Busti, Kitab al-Tsiqat, juz 8, hal.
457).
Al-Imam al-Hafizh Ibn Khuzaimah, penulis
kitab shahih Ibn Khuzaimah,yang menyandang gelar imam al-aimmah (pemimpin para
imam), juga dikenal sebagai ulama’ yang ahli ziarah kubur. Al-Hafizh Ibn Hajar
al-‘Asqalani berkata:
“Al-Hakim pengarang al-Mustadrak berkata
dalam Tarikh Naisabur, “Aku mendengar Abu Bakar Muhammad bin al-Muammal bin
al-Hasan bin Isa berkata, “Kami keluar bersama pemimpin ahli hadist al-Imam Abu
Bakar bin Khuzaimah dan rekannya Abu Ali al-Tsaqafi bersama beberapa orang guru
kami, pada waktu itu rombongan yang menyertai banyak sekali, dengan tujuan
ziara kemakam Ali bin Ibn Khuzaimah terhadap makam itu, serta ke khusyu’annya
didepan makam itu sangat luar biasa, membuat kami merasa heran.” (Al-Imam
al-Hafizh Ibn Hajar, Tahdzib al-Tahdzib, juz 7, hal. 339).
Al-Imam al-Hakim al-Naisaburi, juga
bercerita perihal kisah gurunya, al-Imam al-hafizh Abu Ali al-Naisaburi yang
berziarah ke makam al-imam yahya bin yahya al-Naisaburi, ketika menghadapi
kesulitan, sebagai berikut yang artinya :
“Al-Imam al-Hakim berkata, “ Aku mendengar
al-Imam abu Ali al-Naisaburi berkata, “ Aku mengalami kesusahan yanga berat,
lalu aku bermimpi rasulullah seakan-akan berkata kepadaku, “ Datanglah ke makam
Yahya bin yahya (seorang ulama’ ahli hadist), mohonlah ampunan kepada allah dan
berdo’alah, hajatmu pasti terkabul.” Pagi harinya aku melakukan hal tersebut,
dan hajatku pun terkabul.” (Al-Hafizh Ibn Hajar, Tahdzib al-Tahdzib, juz
11, hal. 261).
Tradisi ziarah wali, yang dewasa ini
populer dengan wisata religi, dengan membaca al-Qur’an dan aneka ragam dzikir
lainnya di samping para wali, lalu erdo’a dan bertawassul dengan para wali,
merupakan tradisi umat islam yang berlangsung sejak generasi sahabat dan
diamalkan oleh para ulama’ ahli hadits. Berkaitan engan tawassul dengan rang
yang sudah meninggal dunia, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, pendiri
aliran Wahabi, menyampaikan sebuah riwayat dalam Ahkam Tamanni al-Maut berikut
ini yang artinya:
“
Sa’ad al-zanjani meriwayatkan hadist dari
Abu Hurairah secara marfu’ : “ Barangsiapa mendatangi makam lalu membaca
al-Fatihah, Qul huwallahu ahad dan alhakumuttakatsur, kemudian mengatakan, “ Ya
Allah, aku hadiahkan pahala bacaan al-Qur’an ini bagi kaum beriman laki-laki
dan perempuan di makam ini,” maka mereka akan menjadi penolongnya kepada
allah.” (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab al- Najdi, Ahkam Tamanni al-Maut,
hal. 75).
2.10
Tradisi
Bulan Shafar
Pada bulan shafar, banyak sekali kaum
muslimin di tanah air yang melakukan tradisi bersedekah dengan membuat bubur
shafar (tajin shafar). Bubur tersebut dibuat secara khas dan dibagi-bagikan
kepada keluarga dan tetangga sekitar dengan tujuan menolak malapetaka. Hal
tersebut dialakukan karena ada sebuah hadits shahih yang artinya :
“
Dari abu Hurairah r.a., rasulullah saw.
Bersabda : “ Tidak ada kepercayaan datangnya sial dari bulan shafar. Tidak ada
kepercayaan bahwa orang mati, rohnya menjadi burung yang terbang.” (H.R.
al- Bukhari dan Muslim).
Dalam menafsirkan kalimat “walaa shafar”
dalam hadits di atas, al-Imam al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, ulama’ salafi dan
murid Syaikh Ibn Qayyimal-Jauziyah, berkata yang artinya:
“ Maksud hadits diatas,
orang-orang Jahiliyah meyakini datangnya sial dengan bulan shafar. Mereka
berkata, Shafar adalah bulan sial. Maka Nabi saw. Membatalkan hal tersebut.
Pendapat ini yang paling benar. Banyak orang awam yang meyakini datangnya sial
pada bulan shafar, dan terkadang melarang berpergian pada bulan itu. Meyakini
datangnya sial dengan bulan shafar termasuk jenis thiyarah (meyakini adanya
pertanda buruk) yang dilarang.” (Al-Imam al-Hafizh Ibn
Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif, hal. 148).
Di sisi lain, agama kita juga melarang
menelitiwaktu-waktu yang disangka mendatangkan kesialan dan ketidak
beruntungan. Bahkan sebagai gantinya, pada saat orang lain meyakini datangnya
kesialan dengan waktu-waktu waktu-waktu tertentu, agamakita menganjurkan kita
agar melakukan amal kebaikan yang dapat menolak balak (sial dan ketidak
beruntungan) seperti berdo’a, berdzikir, bersedekah dan lain-lain. Dalam
konteks ini al-Imam al-Hafizh al-Hujjah Zainuddin Ibn Rajab al-Hanbali, ulama’
salafi dan murid terbaik Syaikh Ibn Qayyim al-Jauziyah, berkata dalam kitabnya,
Lathaif al-Ma’arif yang artinya :
“
Meneliti sebab-sebab keburukan seperti
melihat perbintangan dan semacamnya termasuk thiyarah yang dilarang.
Orang-orang yang meneliti hal tersebut biasanya tidak menyibukkan diri dengan
amal-amal baik yang dapat menolak balak, bahkan mereka memerintahkan agar tidak
meninggalkan rumah dan tidak bekerja. Ini jelas tidak mencegah terjadinya
keputusan dan ketentuan allah. Diantara mereka ada yang menyibukkan dirinya
dengan perbuatan maksiat. Hal ini jelas memperkuat terjadinya malapetaka.
Ajaran yang dibawa oleh syri’at adalah tidak meneliti hal tersebut, berpaling
darinya, dan menyibukkan diri dengan amal-amal yang dapat menolak balak seperti
berdo’a, berdzikir, bersedekah, memantapkan tawakal kepada allah swt. Dan
beriman kepada keputusan dan ketentuan allah swt. “ (Ibn Rajab, Lathaif
al-Ma’arif, hal. 143).
Nah, berdasarkan hal inilah para ulama’
kita di nusantara sejak dulu menganjurkan memperbanyak bersedekah di bulan
shafar untuk menolak balak. Sedekah tersebut oleh masyarakat kita ditradisikan
dalam bentuk bubur shafar. Bahkan pada hari rabu terakhir bulan shafar, tidak
sedikit ulama’ kita yang melakukan tradisi shalat sunah mutlak di hari Rabu
Wekasan dan membuat minuman yang diberi tulisan ruqyah agar terhindar dari
malapetaka. Lebih-lebih Rabu terakhir dalam setiap bulan dianggap sebagai hari
terjadinya sial berdasarkan hadits yang artinya :
“ Dari Ibn Abbas r.a.
Nabi saw. Bersabda: “ Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya sial
terus.” HR. Waki’ dalam al-Ghurar, Ibn
Mardawaih dalam al-Tafsir dan al-Khatib al-Baghdadi. (al-Hafizh Jalaluddin
al-suyuthi, al-Jami’ al-Shagir, juz 1, hal. 4, dan al-Hafizh Ahmad bin
al-Siddiq al-Ghumari al-Hasani, al-Mudawi li’llal al-Jami’ al-Shagir wa Syarhai
al-Munawi, Juz 1, hal. 23).
Demikian beberapa tradisi umat islam
nusantara dalam pandangan ahli hadits dan para ulama’ salafi, rujukan utama
kaum wahabi, seperti al-Imam ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab imam al-Hanbali,
serta para pengikutnya, dan syaikh Ibn Taimiyah serta murid-murid dan para
pengagumnya.
BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Tradisi
adalah sesuatu yang terjadi berulang-ulang dengan sengaja dan bukan secara
kebetulan. Hukum melanggar tradisi masyarakat adalah hal yang tidak baik selama
tradisi tersebut tidak diharamkan oleh agama.
Sebagian
dari tradisi tersebut adalah Tradisi Yasinan, Tradisi Maulid Nabi, Tradisi
Manaqiban dan Haul,Tradisi Bulan Syura, Tradisi Bulan Sya’ban, Ruwahan, dan
Nyadran, Tradisi Istighatsah dan Tawassul, Khasiyat Ayat Al-Qur’an, Hizib, dan
Do’a, Shalat Sunnat Qabliyah Jum’at, Ziarah Kubur, Tradisi Bulan Shafar.
DAFTAR PUSTAKA
KH. Akhyar, Miftahul, 2015, Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah dari
Pembiasan Menuju Pemahaman dan Pembelaan Akidah-Amaliah NU, Surabaya,
Khalista.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar